§Revolusi industri:

pemisahan antara rumah dan tempat kerja

§Kaum agamawan: Kekuatiran bila semua istri bekerja tidak ada yang mengurus anak di rumah
§Pembagian kerja:

perempuan sebagai “pekerja Keluarga” dan laki-laki sebagai “pekerja di tempat kerja (luar rumah)

Perempuan dan nafkah keluarga
1.Perempuan dan nafkah keluarga
2.Antara peminggiran perempuan dan remitans sosial buruh migran perempuan
3.Perempuan, kepemimpinan dan Politik Masyarakat pedesaan
Asal usul bekerja bagi perempuan
§Revolusi industri:

pemisahan antara rumah dan tempat kerja

§Kaum agamawan: Kekuatiran bila semua istri bekerja tidak ada yang mengurus anak di rumah
§Pembagian kerja:

perempuan sebagai “pekerja Keluarga” dan laki-laki sebagai “pekerja di tempat kerja (luar rumah)

Asal usul bekerja bagi perempuan

§Revolusi industri:

pemisahan antara rumah dan tempat kerja

§Kaum agamawan: Kekuatiran bila semua istri bekerja tidak ada yang mengurus anak di rumah
§Pembagian kerja:

perempuan sebagai “pekerja Keluarga” dan laki-laki sebagai “pekerja di tempat kerja (luar rumah)

Laporan seminar Cohesi 2009

Di Auditorium Andi Hakim Nasution

24 Oktober 2009

Sesi 1

Tantangan Membangun Indonesia Berkelanjutan

Oleh : Bambang Widyanto (Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup)

v Masalah lingkungan hidup dan solusinya

Masalah-masalah yang dihadapi alam saat ini yaitu pencemaran air, pencemaran udara di kota-kota besar, pencemaran limbah domestik dan sampah, kontaminasi dari bahan berbahaya dan beracun (B3), kerusakan ekosistem hujan hutan tropika, kerusakan daerah aliran sungai, kerusakan ekosistem danau, kerusakan ekosistem pesisir dan laut, kerusakan akibat pertambangan, pemanasan bumi dan perubahan iklim (global warming), penipisan lapisan ozon, dan bencana lingkungan: banjir dan longsor,kekeringan, kebakaran hutan dan lahan.

Dari berbagai masalah diatas, yang dianggap sebagai masalah yang sulit untuk terselesaikan atau bahkan masih belum bisa teratasi secara langsung yakni masalah pencemaran air, berbagai kerusakan ekosistem, dan global warming. Dengan pergantian kepemimpinan di pemerintahan untuk urusan lingkungan hidup, masalah yang ditulis miring merupakan continue problem yang kita tidak tahu kapan akan terselesaikan dan seperti apa resolusi terbaik yang tidak merugikan ataupun menguntungkan satu pihak saja.

Berdasaran peta masalah lingkungan hidup, manusialah yang sebenarnya dapat menjadi agent of change dalam berbagai masalah lingkungan hidup tersebut.

v Solusi

Pembangunan berkelanjutan

v Tantangan

  • Prasyarat pembangunan berkelanjutan
  1. Integritas nasional: untuk kepentingan Negara, bebas dari campur tangan luar (segi politik dan ekonomi).
  2. Good governance: pemerintahan yang bersih, transparan, dan efektif.
  3. Pertumbuhan ekonomi.
  4. Pemerataan sehingga bisa mengurangi kemiskinan (± 17% merupakan tingkat kemiskinan di Indonesia dan ini merupakan distorsi).
  5. Stabilitas politik dan keamanan.
  6. Demokrasi, kebijakan publik yang mempunyai keberpihakan terhadap lingkungan.
  7. Pendidikan dan informasi publik.
  • Kondisi global yang kondusif
  1. Karena globalisasi maka ada ketergantungan antar bangsa.
  2. Kerjasama dan saling pengertian antar budaya.
  3. Perlu strategi “Koalisi Global Organisasi Pembangunan Berkelanjutan”.
  4. Prinsip kerjasama tapi dibedakan.

Selain faktor diatas ada faktor internal dan eksternal, faktor internal meliputi ekonomi, governance, multinasional corporation, politik, budaya, demografi, dan hukum. Sedangkan faktor eksternal meliputi sumberdaya manusia, kelembagaan, kordinasi, ego sektoral dan parsial, anggaran, kerjasama antar sektor, dan kesadaran masyarakat. Dimana kedua faktor tersebut dari marginalisasi lingkungan hidup.

Sedangkan strategi mainstreaming meliputi ekonomi, sosial, politik, dan budaya yang masih perlu pembenahan.

Untuk mengatasi, mengurangi atau mencegah berbagai permasalahan lingkungan diatas, maka dirasa sangatlah perlu bagi kita untuk melakukan real action seperti mulailah menanam pohon, mendaur ulang dan gunakan ulang (3R), membatasi emisi karbon, dan menggunakan transportasi yang ramah lingkungan atau bersepeda.

v Peran Perguruan Tinggi

Dalam mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup dirasa perguruan tinggi perlu terlibat seperti:

- Memberi masukan ilmiah tentang inventarisasi sumberdaya alam (kualitas dan kuantitas), penanggulangan kemiskinan, pola reduksi dan konsumsi, penegakan hukum, kampanye, informasi dan edukasi, indikator pembangunan berkelanjutan.

- Melakukan integrasi isu pembangunan berkelanjutan ke dalam kurikulum pendidikan.

- Pusat perubahan sikap dan perilaku.

Sesi 2

Moderator: Suranto Wahyu (Presiden Mahasiswa IPB)

Pembicara :

  1. Dr. Damayanti Buchori (Tokoh LSM)
  2. Dr.Ir. Soeryo Adiwibowo, MS (Ketua Departemen KPM)
  3. Bambang Istiawan (Tokoh Ekologi)

v Potensi dan peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)

Keadilan, budaya, ketimpangan ekonomi, teknologi dan manusiawi (termasuk didalamnya tentang keterkaitan manusia dengan alam dan manusia dengan berbagai aspek kehidupan yang mendukungnya) merupakan pokok permasalahan yang kadang terlupakan atau terabaikan. Sehingga dirasa perlu dibenahi dan peran LSM diantaranya adalah menjembatani untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Berdasarkan data yang didapat LSM saat ini telah terjadi laju deforestasi yaitu suatu kondisi saat tingkat luas area hutan mengalami penurunan secara kualitas dan kuantitas . Laju deforestasi sebesar 1,3 juta-1,7 juta ha/tahun dan Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72% (World Resource Institut, 1997). Sehingga banyak hewan-hewan yang terancam punah seperti monyet dan badak bahkan hewan-hewan tersebut mulai memasuki kawasan penduduk. Dan tantangan bagi generasi muda ialah bagaimana mengatasi berbagai masalah lingkungan tersebut dan bagaimana mempertahankan nilai-nilai budaya, agama, agar tidak terjadi krisis ekologi yang dapat mengenai langsung manusianya ataupun lingkungannya.

Arah dan keberhasilan pembangunan ditentukan oleh seberapa besar irisan perilaku tersebut. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang ±240 juta, menurut Susenas tahun 2004 hanya 5% penduduknya yang dapat menikmati pendidikan sampai ke Perguruan tinggi. Jadi sebagai orang yang dapat menikmati pendidikan hingga mendapat gelar mahasiswa, kita pun mempunyai tanggung jawab besar dalam masalah ekologi ini.

Dengan tingginya tekanan penduduk, maka dirasa perlu adanya partner bagi pemerintah untuk mengatasi berbagai masalah. Sehingga peran LSM terasa sangat penting dalam menjembatani antara pemerintah dengan masyarakat. LSM mau dijadikan sebagai NGO(Non-Government Organization)tentu LSM harus mempunyai konsistensi dan kekhasan kapasitas tertentu untuk masyarakat. Pemetaan LSM itu bersifat Spektrum, jadi tidak bisa hitam-putih.

Bagaimanakah dengan pemberdayaan LSM? Jawabannya adalah meningkatkan potensi LSM yakni berupa menyuarakan apa yang tak terdengar baik ke pemerintahan (ke atas) maupun ke masyarakat (ke bawah).

v Gerakan Ekologi

  • Akar krisis ekologi , yaitu:

- Pencemaran, rekayasa genetik, dan kerusakan sumberdaya alam.

- Life style.

- Antroposentris yaitu sikap yang mementingkan kepentingan manusia atau sendiri daripada kepentingan orang lain atau lingkungan.

- Kontemposentris

  • Masalah lingkungan hidup di Indonesia meliputi:

- Masalah struktural dan tidak sekedar masalah demografi.

- Masalah tata kelola (governance) bukan kelangsungan dana dan keterbatasan pendidikan.

- Kerusakan atau pencemaran lingkungan sering disebabkan oleh keputusan-keputusan ekonomi dan politik yang ditetapkan jauh dari lokasi terjadinya kerusakan tersebut.

- Ketiga hal diatas menjadi sorotan utama kajian atau gerakan ekologi politik.

Gerakan ekologi berbeda dengan gerakan lingkungan. Karena gerakan lingkungan sama dengan proses penyuluhan yang melibatkan LSM, dan dapat berbentuk aksi penanaman pohon, membuang sampah pada tempatnya ataupun yang lainnya. Sedangkan gerakan ekologi merupakan tindakan yang lebih dari gerakan lingkungan karena tujuannya yaitu merubah perilaku individunya dan melibatkan orang lain atau individu itu secara langsung.

Untuk melakukan gerakan ekologi maka perlu adanya ketulusan dan keikhlasan serta gerakan nyata. Dan dalam pengembangannya perlu adanya lintas agama, suku, ras, dan golongan tanpa rasa membeda satu dengan yang lainnya.

  • Kendala gerakan ekologi:

- Governance.

- Tradisi demokrasi.

- Pendidikan.

- Networks (jaringan).

- Kemiskinan (dianggap sebagai target atau grup utama gerakan ekologi).

v Pengalaman dan aksi membangun Indonesia hijau

Ini merupakan cerita atau pengalaman hidup seorang Bambang Istiawan yang dapat dikatakan sebagai pahlawan ekologi karena jasanya dalam mengelola tanah tandus dan lahan “tidur”. Cerita berawal dari keprihatinan beliau melihat ada banyak daerah di Indonesia yang tak terawat dan banyaknya kerusakan lingkungan. Sehingga ia dan keluarganya tersadar untuk mencoba mengelola tanah di daerah puncak. Tanah tersebut awalnya hanya akan dijadikan sebagai hutan hujan tropis. Tapi begitu Ia tahu potensi tanah tersebut, maka Ia pun mencoba bertanam disana, dengan sistem tumpang sari kacang, cabe, bawang atau sayuran lainnya. Dan akhirnya menghasilkan keuntungan yang menjanjikan.

Baginya awal untuk memulai sesuatu adalah semangat, komitmen, dan modal. Jika ketiga hal tersebut sudah ada, maka langkah selanjutnya adalah menjalankannya dengan berani menerima resiko. Prinsip dasar pengelolaan lahan tersebut ialah penghijauan dan pertanian organik. Dan point penting yang perlu diperhatikan juga sebelum mengelola lahan adalah pemilihan lokasi, kontur tanah, sumber air, dan sumber bibit.

Hikmah yang bisa kita ambil dari cerita pak Bambang ini ialah, untuk memulai sesuatu janganlah terlalu berfikir resiko keberhasilan atau kegagalannya. Tapi cobalah maka kita akan tahu apa yang kita dapat. Inilah sebuah pengorbanan yang menghasilkan penghargaan dan kekayaan.